Setiap bulan Muharram tiba, Pesisir Minangkabau khususnya Kota Pariaman, Sumatera Barat, mendadak berubah warna. Ribuan pasang mata dari berbagai penjuru Nusantara hingga mancanegara berkumpul di tepi pantai. Udara dipenuhi suara gemuruh tabuhan gandang tasa yang membakar semangat, bersahutan dengan sorakan riuh massa. Di tengah kerumunan itu, berdiri megah dua menara setinggi puluhan meter yang dihiasi warna-warni kain, cermin, dan ornamen burung buraq.

Masyarakat menyebutnya Tabuik. Sebuah perayaan kolosal yang memadukan sejarah panjang, mitos, ekspresi seni, serta keteguhan warga lokal dalam menjaga warisan nenek moyang. Namun, di balik kemeriahan pesta rakyat yang kini menjadi magnet pariwisata nasional tersebut, tersimpan kisah duka mendalam dan jejak akulturasi budaya yang sangat kaya.

Jejak Kelam di Tanah Karbala yang Menyeberangi Samudra

Secara historis, tradisi Tabuik berakar dari peristiwa memilukan di Padang Karbala, Irak, pada tahun 61 Hijriah (680 Masehi). Kala itu, Cucu Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Husein bin Ali, gugur secara tragis dalam pertempuran yang tak seimbang. Peristiwa Karbala menyiarkan duka mendalam bagi umat Islam di seluruh dunia, khususnya kalangan yang sangat mencintai Ahlul Bait.

Bagaimana tradisi peringatan duka ini bisa sampai ke pesisir Sumatera Barat? Catatan sejarah mencatat bahwa tradisi ini dibawa oleh penganut Islam Syiah yang berasal dari pasukan Sipahi (India/Benggala). Pasukan ini direkrut oleh Inggris saat menguasai wilayah Bengkulu pada abad ke-18.

Ketika kekuasaan Inggris diserahterimakan kepada Belanda melalui Perjanjian London tahun 1824, sebagian pasukan Sipahi menyebar ke berbagai wilayah di pesisir barat Sumatera, termasuk Pariaman. Seiring berjalannya waktu, tradisi duka yang dibawa oleh pasukan asing ini mengalami proses pembauran dan adaptasi budaya dengan adat Minangkabau. Nilai-nilai dogmatis perlahan bergeser menjadi sebuah ritual kebudayaan dan ekspresi seni pertunjukan khas masyarakat Pariaman.

Sosok Buraq dan Ritual Sakral yang Penuh Makna

Secara etimologi, kata Tabuik berasal dari bahasa Arab Tabut, yang berarti peti kayu atau tempat menyimpan dokumen berharga. Dalam konteks tradisi Pariaman, Tabuik merujuk pada konstruksi menara megah setinggi 12 hingga 15 meter yang terbuat dari bambu, kayu, kain perca, dan kertas warna-warni.

Pada bagian bawah menara, terdapat patung makhluk rekaan berwujud Buraq—kuda bersayap dengan kepala wanita berparas cantik. Menurut kepercayaan lokal, Buraq inilah yang membawa peti jenazah Sayyidina Husein naik ke langit menuju tempat paling mulia di sisi Tuhan.

Proses pembuatan hingga puncaknya tidak dilakukan secara sembarangan. Pesta budaya ini berlangsung selama 10 hari, dimulai dari tanggal 1 hingga 10 Muharram, dengan serangkaian ritual bertahap yang syarat akan simbol filosofis:

  • Maambik Tanah (Mengambil Tanah): Ritual awal yang dilakukan pada 1 Muharram. Tanah diambil dari dasar sungai sebagai simbol tempat asal muasal penciptaan manusia sekaligus penanda dimulainya rangkaian acara.
  • Manabang Batang Pansiang (Menebang Batang Pisang): Menggambarkan tebasan pedang musuh yang menggugurkan Husein di medan perang.
  • Maatam (Merapat/Meratap): Ekspresi rasa duka mendalam atas wafatnya Husein yang disimbolkan dengan iring-iringan dan tangisan.
  • Maandani (Mengarak Paragraf Buraq): Proses merakit dan mengarak bagian-bagian Tabuik di jalanan kota.
  • Tabuik Naik Pangkat: Menjelang subuh pada hari ke-10 Muharram, bagian atas dan bawah menara disatukan hingga berdiri tegak dengan megahnya.

Dua Wilayah yang Bertanding dalam SemangatPersaudaraan

Satu hal unik yang menjadikan Tabuik Pariaman begitu hidup adalah persaingan legendaris antara dua kelompok masyarakat: Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang.

Pasa mewakili kelompok masyarakat yang bermukim di pusat pasar Pariaman, sementara Subarang mewakili wilayah yang berada di seberang Sungai Pariaman. Kedua pihak masing-masing membuat satu menara Tabuik yang berukuran spektakuler.

Pada puncak perayaan (10 Muharram), kedua menara agung ini diarak menuju titik temu di Pantai Gandoriah. Di sinilah terjadi adegan yang sangat ditunggu-tunggu: Hoyak Tabuik. Kedua kelompok saling mengguncang menara masing-masing diiringi irama gandang tasa yang menggelegar dan sangat energik. Suasana berubah menjadi sangat emosional, penuh dinamika, dan membakar semangat. Meskipun terlihat seperti persaingan ketat, tidak ada dendam di antara mereka, semua dilakukan murni atas dasar kebanggaan budaya dan semangat persaudaraan badunsanak.

Puncak Perpisahan di Lautan Gandoriah

Prosesi puncak sekaligus penutup dari seluruh rangkaian acara terjadi pada sore hari saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat Pantai Gandoriah. Momen ini dikenal dengan istilah Melarung Tabuik ke Laut.

Ratusan warga akan berbondong-bondong menceburkan diri ke dalam air laut, memikul dua menara raksasa tersebut ke tengah ombak. Di sanalah, seluruh hiasan menara dibongkar dan dilarung ke lautan lepas. Larungnya Tabuik ke laut menyimbolkan kembalinya Buraq pembawa jenazah Husein ke langit, sekaligus pembersihan diri dari segala kesedihan dan dosa untuk menyambut tahun baru Hijriah dengan lembaran bersih.

Saat menara tenggelam digulung ombak, sorak-sorai ribuan pengunjung membahana, menandai berakhirnya festival untuk tahun tersebut.

Dari Ritual Duka Menjadi Warisan Budaya Dunia

Kini, Tabuik tidak lagi sekadar ritual keagamaan lokal, melainkan telah bertransformasi menjadi salah satu agenda pariwisata unggulan Indonesia (Karisma Event Nusantara). Pemerintah Kota Pariaman dan masyarakat setempat berhasil merawat nilai-nilai tradisi ini tanpa kehilangan ruh sejarahnya, sembari mengemasnya menjadi pertunjukan kolosal yang berdampak positif pada perekonomian warga.

Tradisi ini membuktikan bahwa budaya Minangkabau memiliki daya serap yang luar biasa terhadap pengaruh luar, lalu mengolahnya menjadi sebuah karya seni dan nilai lokal yang adiluhung. Tabuik Pariaman adalah bukti nyata bagaimana kenangan masa lalu, penghormatan sejarah, dan kegembiraan masa kini bisa menyatu indah di tepi Samudra Hindia.