Sumatera Barat tak pernah kehabisan daya pikat untuk memanjakan siapa saja yang berkunjung. Jika selama ini Bukittinggi dan Padang menjadi destinasi populer utama, kawasan Payakumbuh beserta Kabupaten Lima Puluh Kota yang mengelilinginya menyimpan pesona langka yang tak kalah memikat.

Terletak sekitar 30 kilometer dari Bukittinggi, Payakumbuh berada di lembah yang dikelilingi Gunung Sago, Gunung Marapi, dan Gunung Singgalang. Perpaduan keindahan alam, kekayaan tradisi, dan surga kuliner menjadikan kawasan ini tujuan favorit wisatawan lokal maupun mancanegara.

Berikut adalah deretan fakta menarik tentang Payakumbuh dan sekitarnya yang akan membuka mata Anda betapa istimewanya sudut Minangkabau yang satu ini.

Lembah Harau, Yosemitenya Indonesia yang Dikelilingi Tebing Purba

Salah satu magnet utama di sekitar Payakumbuh adalah Lembah Harau. Berada di wilayah Kabupaten Lima Puluh Kota, lembah ini dikelilingi tebing-tebing batu granit terjal menjulang tinggi hingga 100–500 meter. Pemandangan bentang tebing berwarna kemerahan yang bersanding dengan hamparan sawah hijau sering kali membuat pengunjung merasa sedang berada di Yosemite National Park, Amerika Serikat.

Penelitian geologi menunjukkan bahwa jutaan tahun lalu Lembah Harau merupakan dasar laut. Bukti ini terlihat dari jenis batuan breksi dan konglomerat yang membentuk tebing-tebing kokoh tersebut. Di dalam lembah ini, Anda juga bisa menemukan puluhan air terjun indah seperti Sarasah Aia Luluih dan Sarasah Bunta yang mengalir jernih dari puncak tebing.

Julukan Kota Rendang dan Ragam Kuliner Khas yang Menggugah Selera

Selain keindahan alamnya, Payakumbuh secara resmi dijuluki sebagai Kota Rendang. Julukan ini bukan sekadar gelar biasa, melainkan pengakuan atas produktivitas masyarakatnya dalam melestarikan masakan tradisional Minangkabau.

Menariknya, rendang di Payakumbuh tidak hanya berbahan dasar daging sapi. Masyarakat setempat mengolah berbagai bahan lokal menjadi varian rendang yang unik dan tahan lama, seperti:

  • Rendang Telur: Olahan telur yang dimasak kering berbentuk keripik renyah berbalut bumbu rendang gurih.
  • Rendang Belut: Cita rasa gurih alami belut yang berpadu sempurna dengan rempah-rempah pekat.
  • Rendang Runtiah: Daging sapi yang disuwir halus hingga menyerap seluruh bumbu karamelisasi coconut milk.
  • Rendang Jamur dan Daun Kayu: Inovasi berbasis bahan nabati khas daerah setempat.

Tak hanya rendang, kuliner legendaris lain seperti Martabak Kubang, Sate Payakumbuh dengan kuah kacang kuning keemasan, dan Bika hangat menjadi sajian yang wajib dicicipi saat malam hari tiba.

Megahnya Jembatan Kelok 9, Perpaduan Infrastruktur Modern dan Alam Lembah

Bergeser sedikit ke arah timur menuju perbatasan Riau, Anda akan dibuat takjub oleh Mahakarya infrastruktur Indonesia bernama Jembatan Kelok 9. Jalur ini dulunya dikenal sebagai jalan berkelok tajam yang rawan kemacetan karena diapit dua bukit tebal.

Kini, jembatan layang megah sepanjang hampir 1 kilometer membentang meliuk-liuk menembus cagar alam setempat. Konstruksi jembatan dirancang dengan memperhitungkan kestabilan bentang alam tanpa merusak ekosistem hutan sekitar. Berhenti sejenak di area pandang Kelok 9 untuk menikmati kopi sembari melihat pemandangan jembatan di tengah rimba hijau menjadi aktivitas favorit para pelintas interkota.

Pacu Itak, Tradisi Balap Bebek Unik yang Hanya Ada di Payakumbuh

Minangkabau terkenal dengan tradisi Pacu Jawi (balap sapi) di Tanah Datar. Namun, Payakumbuh dan Lima Puluh Kota memiliki kebudayaan yang tak kalah unik dan menarik bernama Pacu Itak atau Pacu Terbang Itik.

Tradisi ini melombakan itik lokal (Anas platyrhynchos) yang dilatih khusus untuk terbang melintasi jarak tertentu di atas area persawahan. Berbeda dengan bebek biasa yang umumnya tidak terbang jauh, itik pacu yang sudah dilatih sanggup terbang lurus setinggi beberapa meter melintasi garis finis yang ditentukan. Olahraga tradisional ini selalu menyedot perhatian warga dan kerap digelar sebagai bagian dari pesta rakyat usai panen.

Situs Megalitikum Maek, Jejak Peradaban Purba yang Masih Misterius

Bagi pencinta sejarah dan arkeologi, kawasan Nagari Maek di Lima Puluh Kota menyajikan teka-teki masa lalu yang sangat memikat. Wilayah ini sering dijuluki sebagai “Nagari Seribu Menhir” karena ditemukannya ratusan batu megalitikum peninggalan zaman prasejarah.

Batu-batu menhir berdiri mengarah ke satu titik tertentu, diperkirakan sebagai sarana pemujaan atau penanda makam leluhur dari ribuan tahun silam. Ukiran pada batu-batu tersebut menunjukkan bahwa kawasan sekitar Payakumbuh telah menjadi pusat peradaban dan permukiman manusia sejak zaman perunggu dan batu besar.

Pusat Industri Kerajinan Tenun dan Suvenir Khas Minang

Payakumbuh juga dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan tangan terbaik di Sumatera Barat. Salah satu yang paling termasyhur adalah industri tenun tradisional di kawasan Halaban dan Balai Panjang.

Penenun lokal menghasilkan kain Suntiang dan Songket dengan motif-motif klasik yang sarat makna filosofis Minangkabau. Pewarnaan alami dari tumbuh-tumbuhan lokal masih dipertahankan oleh sebagian perajin untuk menjaga kualitas dan nilai estetika tinggi pada setiap helai kain.

Siap Menjelajahi Keajaiban Payakumbuh?

Payakumbuh dan kawasan sekitarnya menyajikan paket liburan yang lengkap. Dari keajaiban tebing granit purba, mahakarya jembatan di tengah lembah, lezatnya variasi rendang, hingga keunikan budaya lokalnya—semua dapat Anda nikmati dalam satu kali kunjungan. Pastikan Payakumbuh masuk ke dalam daftar prioritas perjalanan Anda selanjutnya saat menjelajahi Ranah Minang!