Faktapadang.id — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memantik perhatian publik lewat pidato penuh emosi saat meresmikan Museum Pahlawan Buruh Indonesia Marsinah di Desa Nglundo. Berdasarkan ulasan Ketua Satupena Kalbar, Rosadi Jamani, momen formal tersebut seketika berubah menjadi panggung luapan kemarahan Kepala Negara saat menyinggung tragedi kelam yang menimpa pejuang buruh perempuan tersebut.
Dengan suara meninggi hingga sempat menggebrak podium, Presiden menyayangkan hilangnya nyawa Marsinah di masa lalu akibat melawan ketidakadilan. Ia menyoroti ironi di mana para pejuang buruh meregang nyawa, sementara oknum penikmat komisi proyek ilegal justru bisa hidup tenang.
Ultimatum Keras Aparat Penegak Hukum
Prabowo memberikan larangan mutlak kepada seluruh instansi keamanan dan birokrasi negara untuk tidak menjadi pelindung atau beking berbagai aktivitas ilegal. Fokus pemberantasan diarahkan pada:
Praktik perjudian (online maupun konvensional).
Jaringan peredaran gelap narkotika.
Aksi penyelundupan barang dari luar negeri.
Presiden menyindir keras fakta di mana bisnis ilegal bermodal bekingan sering kali beroperasi lebih mulus di lapangan, berbanding terbalik dengan nasib pedagang kecil yang kerap dicekik oleh rumitnya urusan izin lapak harian.
Satire Kurs Dolar dan Evaluasi Program MBG
Di hadapan masyarakat pedesaan, Presiden Prabowo melontarkan satire tajam mengenai histeria pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang belakangan memicu kepanikan para ekonom. Merespons hal tersebut, Presiden menegaskan bahwa rakyat di desa tidak menggunakan mata uang asing untuk transaksi harian. Menurutnya, pemenuhan urusan perut rakyat dan stabilitas harga beras jauh lebih krusial dibandingkan memantau kebijakan finansial global.
Selain itu, Kepala Negara secara terbuka mengakui adanya kebocoran dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Alih-alih membantah informasi tersebut, Presiden berjanji akan menindak tegas penyalahgunaan anggaran demi memastikan program nasional ini berjalan tepat sasaran untuk masyarakat bawah.
*(Drw)













